Dalam Bisnis Kuliner, Lebih Baik Produk atau Market Dulu?
Dalam Bisnis Kuliner, Lebih Baik Produk atau Market Dulu?
Saat ingin memulai bisnis kuliner, banyak owner dihadapkan pada satu pertanyaan klasik: lebih baik produk atau market dulu?
Apakah sebaiknya fokus menciptakan menu terenak versi kita, atau justru mencari tahu dulu siapa target pasar dan apa yang mereka butuhkan?
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tapi bisa menentukan arah dan nasib bisnis kuliner ke depan. Yuk, kita bahas satu per satu supaya kamu tidak salah langkah.
Pendekatan Produk Dulu

Pendekatan produk dulu berarti kamu memulai bisnis dari menu. Biasanya ini dilakukan oleh owner yang:
- Punya resep andalan
- Percaya diri dengan kualitas rasa
- Ingin menghadirkan sesuatu yang unik
Contohnya, kamu punya resep ayam geprek yang menurutmu paling enak. Dari situ, kamu baru mencari lokasi, menentukan harga, dan menyasar pelanggan.
Kelebihannya
- Produk punya ciri khas kuat
- Owner lebih passionate menjalankan bisnis
- Cocok untuk konsep kuliner spesial atau signature menu
Risikonya
- Pasar belum tentu siap
- Harga bisa tidak sesuai daya beli target
- Perlu edukasi pasar yang cukup panjang
Pendekatan ini sering gagal bukan karena produknya jelek, tapi karena pasarnya belum ada atau belum paham.
Pendekatan Market Dulu

Sebaliknya, pendekatan market dulu dimulai dari memahami siapa pelanggan yang ingin kamu layani.
Kamu mencari tahu:
- Target konsumen
- Daya beli
- Kebiasaan makan
- Lokasi dan jam ramai
Setelah itu, baru menentukan produk yang paling cocok untuk pasar tersebut.
Kelebihannya
- Produk lebih cepat diterima
- Risiko lebih kecil
- Lebih mudah menentukan harga dan porsi
Kekurangannya
- Produk bisa terasa “biasa saja”
- Tantangan diferensiasi lebih besar
Namun untuk bisnis kuliner pemula, pendekatan market dulu sering lebih aman dan realistis.
Jadi, Produk atau Market Dulu?
Jawabannya bukan hitam-putih. Dalam praktiknya, produk dan market sebaiknya berjalan seimbang.
Namun jika harus memilih, banyak praktisi menyarankan:
Pahami market dulu, lalu sesuaikan produk.
Kenapa? Karena pasar adalah pihak yang membayar. Produk seenak apa pun akan sulit bertahan jika tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pasar.
Contoh Kasus di Bisnis Kuliner
Bayangkan kamu membuka coffee shop di area perkantoran.
Jika kamu fokus produk dulu dan hanya menjual kopi single origin mahal, kemungkinan besar penjualan akan lambat.
Tapi jika kamu memahami market dulu:
- Pekerja butuh kopi cepat
- Harga terjangkau
- Bisa dibawa pulang
Maka produk yang lebih cocok adalah kopi susu, grab-and-go, dan paket sarapan. Produk tetap enak, tapi disesuaikan dengan market.
Strategi Menggabungkan Produk dan Market

Agar tidak terjebak di salah satu sisi, berikut strategi yang bisa kamu terapkan:
Mulai dari Market, Tambahkan Ciri Produk
Pahami kebutuhan pasar, lalu beri sentuhan unik pada produk agar berbeda dari kompetitor.
Uji Produk dalam Skala Kecil
Gunakan sistem pre-order, soft opening, atau menu terbatas untuk melihat respon pasar sebelum produksi besar.
Dengarkan Feedback Pelanggan
Masukan pelanggan adalah jembatan antara produk dan market. Jangan abaikan keluhan atau saran.
Gunakan Data Penjualan
Pantau menu terlaris, jam ramai, dan harga yang paling laku. Data ini membantu kamu memutuskan arah pengembangan produk.
Siap Beradaptasi
Bisnis kuliner itu dinamis, produk yang laku hari ini belum tentu besoknya juga laku. Fleksibilitas adalah kunci yang harus anda juga pegang.
Kesimpulan
Pertanyaan produk atau market dulu tidak punya jawaban tunggal. Namun untuk bisnis kuliner yang ingin bertahan dan berkembang, memahami market lebih dulu adalah langkah paling aman.
Produk tetap penting, tapi harus relevan dengan pasar. Ketika produk dan market saling bertemu di titik yang tepat, bisnis kuliner akan lebih mudah tumbuh dan berkelanjutan.
